Kamis, 06 Agustus 2009

MEKANISME PASAR

Kurva penawaran menjelaskan bagaimana keinginan produsen untuk menjual barang pada berbagai tingkat harga. Bentuk kurva penawaran miring dari kiri bawah ke kanan atas menunjukkan bahwa semakin tinggi harga keinginan perusahaan untuk memproduksi dan menjual barangnya menjadi semakin meningkat. Bagaimana penjelasannya? Kenaikan harga suatu barang akan memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan produksi. Dalam jangka pendek caranya adalah dengan mempekerjakan tenaga tambahan atau dengan menambah jam kerja, sedang dalam jangka panjang adalah dapat dilakukan dengan meluaskan skala pabrik. Tingginya harga juga akan menarik perusahaan perusahaan lain untuk masuk ke pasar sehingga jumlah penjual bertambah dan barang yang ditawarkan meningkat.

Kurva permintaan menjelaskan bagaimana keinginan konsumen untuk membeli pada berbagai tingkat harga. Bentuk kurva permintaan miring ke kanan atas ke kiri bawah karena konsumen biasanya akan membeli lebih banyak jika harganya lebih murah. Jika suatu barang harganya turun menjadi lebih murah akan mendorong konsumen yang sudah membeli untuk membeli lebih banyak lagi dan konsumen yang semula tidak mampu membeli akan mulai membeli barang tersebut.

Dalam kondisi keseimbangan, kedua kurva diatas (permintaan dan penawaran) akan berpotongan pada suatu titik tertentu. Pada Gambar 1 berikut ini terlihat bahwa pada harga P0, jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta yakni sebesar Q0. Mekanisme pasar adalah kecenderungan dalam pasar dimana harga barang terus berubah sampai tercapai posisi keseimbangan (jumlah barang yang diminta = jumlah barang yang ditawarkan). Pada titik keseimbangan tersebut (titik E), tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan dalam jumlah barang sehingga tidak ada tekanan pada harga untuk berubah lagi.

Pada harga P1 produsen memproduksi lebih dari yang diinginkan konsumen. Dalam kondisi kelebihan barang, produsen akan berusaha menurunkan kelebihan tersebut atau paling tidak menjaganya agar tidak terus bertambah caranya adalah dengan menurunkan harga. Jika harga turun maka jumlah barang yang diminta akan meningkat, selain itu dengan turunnya jumlah barang yang ditawarkan pada akhirnya keseimbangan akan tercapai yakni pada harga P0.

Pada harga lebih rendah dari P0 yakni P2 jumlah barang yang diminta lebih besar dari jumlah barang yang ditawarkan yang kemudian akan memberi tekanan agar harga naik. Proses selanjutnya adalah jumlah barang yang diminta pun turun, hingga tercapai keseimbangan pada P0.

Satu hal yang penting dalam menjelaskan mekanisme pasar di atas adalah adanya asumsi bahwa pasar berada dalam kondisi persaingan, baik penjual (produsen) maupun pembeli (konsumen) tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga.

Pasar modal loyo hadapi informasi asimetris

Skandal keuangan korporasi yang banyak terungkap akhir-akhir ini, terutama di Amerika Serikat yang mempunyai perekonomian terbesar di dunia, menyiratkan satu hal penting dari teori ekonomi pasar, bahwa tidak ada satupun pasar yang bebas dari distorsi informasi.

Padahal teori itu membutuhkan prasayarat adanya informasi yang simetris bagi pelaku pasar agar dapat berjalan dengan baik.

Dalam pasar modern yang kompleks seperti pasar modal, pasar derivatif, pasar uang dan pasar kontrak berjangka, informasi mengenai produk yang diperdagangkan tidak kasat mata. Informasi mengenai produk tersebut sangat kompleks dan seringkali asimetris walaupun telah dibantu oleh para pelaku pendukung seperti riset analis ataupun penasihat investasi. Di sinilah peluang terjadinya transaksi atas suatu produk yang nilainya tidak atau belum mencerminkan seluruh informasi yang dikandung produk itu.

Coba bandingkan dengan pasar konvensional seperti pasar barang konsumsi yang hampir mencerminkan seluruh informasi mengenai nilai yang dikandung barang tersebut.

Pasar modal di manapun di seluruh dunia, mungkin yang paling merepresentasikan pasar dengan informasi paling asimetris, karena itu tidak heran inilah jenis pasar dengan regulasi terbanyak untuk meminimalkan informasi asimetris yang timbul.

Banyak regulasi

Mengapa banyak sekali regulasi yang melingkupi pasar modal? Hal ini terjadi karena mekanisme pasar yang diharapkan mampu melakukan self correction atas distorsi yang terjadi seringkali berjalan lambat dan telah menimbulkan kerugian yang sangat besar yang tidak mampu ditanggulangi oleh mekanisme pasar tersebut.

WorldCom, Enron, Global Crossing dan lain sebagainya adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan 'lemon' di pasar modal, suatu istilah yang diperkenalkan George Akerlof, lewat artikelnya Market for lemon yang menggambarkan kesalahan memilih yang dilakukan pembeli mobil bekas akibat adanya ketidakseimbangan informasi antara penjual dan pembeli.

Perusahaan seperti WorldCom dan Enron merupakan contoh gamblang akibat adanya informasi asimetris antara manajemen perusahaan dan investor.

Investor yang membaca laporan keuangan perusahaan tersebut maupun hasil analisis dari riset analis maupun penasihat investasinya melihat bahwa perusahaan tersebut mempunyai potensi keuntungan dimasa depan, sehingga harga yang terbentuk pada saat itu merupakan persepsi investor yang mencerminkan seluruh informasi atas perusahan tersebut.

Apa yang terjadi ketika investor kemudian sadar telah melakukan kesalahan dalam menilai dan memilih saham perusahaan tersebut, seluruh investor berlomba mencampakkan saham tersebut. Alhasil 'gelembung perusahaan' itupun pecah berantakan.

Mengapa hal diatas bisa terjadi? dan bagaimana mungkin investor tidak menyadari hal tersebut jauh-jauh hari sebelumnya? Mengapa pihak pengelola dan pengawas pasar modal tidak mampu mencegahnya?. Mungkin ini adalah pertanyaan yang muncul dalam benak masyarakat, menyusul terungkapnya skandal korporasi itu.

Investor di pasar modal sesungguhnya mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian atas harga saham yang diperdagangkan. Kompleksitas pasar dan abstraknya produk yang diperdagangkan, membuat investor dengan berbagai macam informasi yang diperoleh mengenai sumberdaya ekonomis perusahaan baik saat ini maupun dimasa mendatang, mencoba untuk membentuk harga yang mencerminkan keseluruhan informasi mengenai perusahaan tersebut baik kondisi yang ada sekarang maupun harapan-harapan atas perusahaan tersebut dimasa mendatang.

Pasar yang efisien akan tercapai apabila seluruh investor dan pelaku pasar lainnya memperoleh akses dan kecepatan yang sama atas keseluruhan informasi yang tersedia. Dengan kata lain, tidak ada insider information.

Kecepatan mendapatkan informasi yang sama, mungkin dapat ditanggulangi dengan kemajuan teknologi komunikasi yang ada, tetapi insider information menurut hemat penulis sampai dengan kiamatpun tidak akan bisa dihilangkan, sekalipun otoritas pasar modal membuat ribuan regulasi.

Jadi bumerang

Siapakah yang memiliki akses paling dekat mengenai keadaan perusahaan? Tentu jawabannya adalah manajemen perusahaan, karyawan kunci lainnya dan pemilik mayoritas dari perusahaan itu.

Program pemilikan saham perusahaan untuk manajemen dan karyawan yang awalnya dimaksudkan untuk lebih memacu motivasi manajemen dan karyawan untuk lebih meningkatkan kekayaan perusahaan, bisa jadi bumerang apabila manajemen dan karyawan kunci memiliki motivasi untuk meraih keuntungan yang tinggi atas saham yang dimilikinya.

Seperti kasus Enron Corp, mereka cenderung akan mengeluarkan informasi palsu kemasyarakat dan memanfaatkan informasi yang sebenarnya untuk kepentingan mereka sendiri.

Seperti kucing dan tikus, institusi pengelola dan pengawas pasar modal sampai kapanpun tidak akan mampu menjaga semua lubang yang ada di pagar dan pelaku kejahatan pasar modal akan selalu mengintip celah untuk lolos melewati pagar yang penuh lubang tersebut dan mengambil keuntungan dari sitem tersebut.

Apakah mekanisme pasar masih efektif dan efisien dalam pasar modal?

Adam Smith menggambarkan mekanisme pasar melalui prinsip invisible hand dimana pasar cenderung akan mengarahkan setiap individu untuk mengejar dan mengerjakan yang terbaik untuk kepentingannya sendiri, yang pada akhirnya juga akan menghasilkan yang terbaik untuk seluruh individu.

Sejarah memperlihatkan bahwa teori ekonomi pasar nampaknya tidak selalu berjalan efisien dan efektif, terutama untuk pasar modal. Produknya yang cenderung abstrak dan ketidakpastiannya di masa depan (future uncertainty), serta permintaan dan penawarannya yang seringkali semu membuatnya sangat sulit divaluasi untuk menentukan real value dan real equilibriumnya.

Alokasi sumberdaya modal dan penggunaannya dalam aktivitas ekonomi yang produktif seringkali tidak seimbang dan membuat sebagian modal tersebut menguap begitu saja dalam suatu perekonomian.

Keseimbangan

Barangkali saat ini bukan lagi pasar yang mengarahkan para individu, tetapi individu-individu dan negaralah yang mengarahkan pasar sesuai dengan motifnya masing-masing. Individu dengan motifnya masing-masing ternyata lebih sering melakukan cara-cara nonproduktif dan mekanisme pasarpun seringkali gagal mengkoreksinya, dan hanya kerugian ekonomilah yang timbul.

Pada akhirnya tidak akan pernah ada pasar yang paling efisien dalam hal alokasi dan penggunaan sumberdaya ekonomis, selama keseimbangan informasi untuk seluruh pelaku pasar tidak tercapai.

Begitu juga pasar modal sebagai salah satu sumber modal dalam perekonomian suatu negara tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme pasar semata, karena akan selalu dibutuhkan campurtangan pihak yang berwenang untuk membuat regulasi dalam rangka meminimalkan disharmoni informasi dalam pasar.

Teori-teori ekonomi dari yang klasik sampai modern terus berkembang dan melakukan modifikasi. Masing-masing teori bisa jadi cocok dan sukses pada zamannya masing-masing, tetapi peradaban manusia terus berjalan, dan kutub-kutub teori ekonomi terus berjalan menuju satu titik keseimbangan pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar